General Atlantic dan CVC telah menghentikan upaya penjualan saham bernilai jutaan dolar di perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan merek makanan cepat saji asal Amerika Serikat (AS) di Indonesia dan Malaysia.

Hal ini seiring dengan protes dan kampanye boikot atas perang Israel-Hamas yang mengganggu bisnis merek-merek cepat saji AS.

Seperti diketahui, konsumen di Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim, telah gencar melakukan merek-merek AS sejak dimulainya serangan Israel di Gaza pada bulan Oktober lalu. Merek-merek tersebut, termasuk Starbucks, KFC dan Pizza Hut, menjadi sasaran karena dukungan Washington terhadap Israel.

Padahal, merek-merek ternama itu telah menekankan netralitas mereka dalam konflik tersebut. Perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan merek-merek tersebut dengan model waralaba juga menekankan bahwa bisnis makanan cepat saji adalah milik dalam negeri.

Mengutip Financial Times, General Atlantic telah menghentikan penjualan 20% sahamnya di pengelola Starbucks di Indonesia, PT Map Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) pada bulan Desember. Hal itu diungapkan oleh dua orang sumber yang mengetahui situasi tersebut. Adapun kapitalisasi pasar Map Boga Adiperkasa bernilai sekitar Rp 4,73 triliun yang berarti porsi kepemilikan General Atlantic nyaris mencapai Rp 1 triliun.

“Mustahil untuk menjual saham sebagai peluang pertumbuhan ketika penjualan sedang menurun, rencana ekspansi diperkecil, karyawan dirugikan di toko-toko dan tidak ada tanda-tanda boikot akan berakhir,” kata seseorang yang mengetahui strategi General Atlantic, dikutip dari FT, Selasa (30/4/2024).

Sementara itu, CVC Capital Partners, salah satu perusahaan ekuitas swasta terbesar di Eropa, juga telah menghentikan penjualan 21% sahamnya di QSR Brands Malaysia, operator KFC dan Pizza Hut. Menurut dua sumber lainnya, alasan penghetian itu juga sama, yakni karena gerakan boikot.

Salah satu pihak mengatakan penjualan terhenti karena beberapa faktor, termasuk tidak mendapatkan valuasi yang diinginkan.

Adapun QSR Malaysia adalah perusahaan swasta dan tidak mengungkapkan data keuangan. Sahamnya bernilai lebih dari RM1,2 miliar (US$252 juta) tahun lalu.

Dengan demikian, penghentian penjualan saham oleh kelompok ekuitas swasta global menggarisbawahi betapa parahnya boikot di wilayah yang dihuni oleh 250 juta umat Islam di dunia.

“Masyarakat mengalihkan aksi boikot dari merek makanan dan minuman ke merek kecantikan. Boikot saat ini jauh lebih besar dibandingkan dengan boikot yang bersifat simbolis,” kata Nirgunan Tiruchelvam, kepala konsumen dan internet di Aletheia Capital.

Ini terbukti, dengan Unilever yang menyatakan pada bulan Februari bahwa penjualannya di Indonesia turun 15% pada kuartal keempat tahun 2023 sebagai akibat dari boikot.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *